Shifting - era Digital
Pemilu 2019 - tahun panas
oleh : Leonardo
9 November 2019

Tahun 2019 bangsa Indonesia akan menyelnggarakan pesta demokrasi, pemilu. Sepanjang hidup saya rasanya tahun politik 2019 ini merupakan yang paling panas. Selain karena kedua kubu yang saling fitnah dan saling menjatuhkan, baru pada pemilu kali ini agama dijadikan komoditas utama berpolitik.

Seharusnya urusan agama sifatnya pribadi antara manusia sebagai individu dengan sang penciptanya. Namun sejak kemunculan ahok, agama dijadikan sebagai komoditas politik. Ini terlihat dari demo berjilid-jilid untuk menurunkan Ahok. Hal ini berlanjut sampai pada persiapan tahun politik 2019.

Bahkan kubu petahana sampai pada strategi pengangkatan KH Ma’ruf sebagai cawapres dalam rangka mengantisipasi kemungkinan kubu lawan menggunakan isu agama pada pemilihan presiden 2019.

Berbeda dengan kubu petahana, kubu lawan justru tidak mengakomodir tokoh agama sebagai cawapres sekalipun koalisi mereka sudah memberikan rekomendasi nama beberapa tokoh agama untuk menjadi cawapres. Nyatanya aspirasi mereka sama sekali tidak tersalurkan, justru wakil Gubernur Jakarta yang dipilih menjadi cawapresnya dengan isu mahar politik 1 triliun.


Selain agama hutang juga dijadikan isu oleh kubu non-petahana. Kata hutang dibuat menjadi momok yang menakutkan, bahwa pemerintahan saat ini melakukan kesalahan besar dengan menambah besaran hutang yang sudah ada. Nyatanya hutang bukanlah sebuah hal yang menakutkan, justru hutang merupakan salah satu bentuk dari leverage. Porsi terbesar hutang yang dilakukan pemerintahan saat ini digunakan untuk pembangunan infrasturktur. Bentuknya berupa jalan raya, jalan bebas hambatan,  subway, MRT, pelabuhan, Bandar udara dan yang lainya


Sekalipun sudah terlihat fisik dari pembangunan infrastruktur tersebut namun para pendukung non-petahana masih saja mengeluh, dengan mengatakan pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dilakukan pemerintah tidak menguntungkan, tidak ada efeknya.


Perlu diketahui bahwa pembangunan infrastruktur bukan berbicara mengenai untung dan rugi. Dalam skala mikro (bisnis) setiap tindakan ekonomi dilakukan dengan tujuan pencapaian keuntungan dengan mengacu pada ROI (return of investment). Pada skala makro, tujuan dari pembangunan adalah untuk menciptakan efek multiplier. Dan efek pembangunan infrastruktur terhadap perekonomian tidak berlangsung secara singkat.


Kubu non petahana juga cukup menitikberatkan isu ekonomi. Cawapres non-petahana bahkan pernah melontarkan kalimat “bentuk tempe sekarang seperti kartu ATM”, sangat tipis. Kalimatnya tersebut menggiring opini publik bahwa harga-harga kebutuhan pokok sangat mahal. Bahwa daya beli masyarakat merosot menurun drastic


Kurs rupiah yang terus melorot belakangan ini juga dijadikan isu. Padahal sebenarnya bukan mata uang rupiah yang melemah, namun US dollar yang menguat terhadap sebagian besar mata uang. Karena perekonomian US sekarang yang sedang menggeliat.


Bukannya memaparkan dan memperkenalkan program yang akan diusung, non-petahana justru selalu berusaha menjatuhkan popularitas pemerintah dengan segala isu dan sentiment yang diciptakannya.

 

Untitled Document
   
 Umum
   
   
   
 Ekonomi
     Shifting - era digital
   
   
 Politik
     Pemilu 2019 - tahun panas
   
   
 Hobby
   
   
   
 Roti Jiwa
     Dedikasi, apresiasi
     Kisah garam, gelas dan danau
     Sang dadu
footer
Anggrek V - Larangan Indah
Ciledug - Tangerang
Banten 15154