Shifting - era Digital
Shifting – era Digital
oleh : Leonardo

Sebagian orang mengatakan bahwa perekonomian kita dalam 2-3 tahun belakangan ini mengalami penurunan. Banyak pengusaha mengeluhkan menurunnya nilai omset mereka, Klaim bahwa beberapa pusat perbelanjaan sepi pengunjung menjadi faktor penguat  kedua argumen tersebut. Namun benarkah seperti itu adanya ?

Secara angka perekonomian Indonesia bertumbuh, dalam 5 tahun terakhir pertumbuhan rata-rata setiap tahunnya tidak kurang dari 5%. Melihat angka tersebut sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa perekonomian kita menurun. Lalu apa yang terjadi ?

Jika kita lihat fenomena di sekeliling kita sebenarnya saat ini sedang terjadi apa yang disebut sebagai “shifting”. Ya, saat ini sedang terjadi peralihan dari kegiatan ekonomi konvensional ke era digital. Para pengusaha-pengusaha muda “baru” banyak yang bermunculan dan mereka sangat mengandalkan platform digital, dari bisnis consumer good, transportasi sampai dengan bisnis akomodasi.


Berapa banyak platform marketplace yang umum kita pergunakan. OLX, Lazada, shoppe hingga tokopedia adalah beberapa yang paling popular. Pada bidang transportasi mungkin kita masih ingat demo yang dilakukan para supir taksi konvensional bluebird pada tahun 2016, kemunculan Uber, grab dan Gojek memberi dampak yg signifikan terhadap penurunan pendapatan para supir taksi konvensional tidak terkecuali para shareholdernya. Omset pebisnis konvensional banyak tergerus dan beralih pada pebisnis “online” ini. Para pengusaha konvensional memang banyak mengalami penurunan omset namun di sisi lain banyak bermunculan pengusaha – pengusaha baru.


Nama seperti Achmad Zaky (Bukalapak), William Tanuwijaya (Tokopedia) adalah contoh dari beberapa pengusaha muda yang lahir dari era "peralihan" ini. Apa yang mereka lakukan sebenarnya sudah dimulai terlebih dahulu oleh Andrew Darwis (Kaskus). Memang pada awal-nya kaskus hanya merupakan sebuah web komunitas yang lebih fokus pada forum diskusi komunitas. Namun sejalan waktu, muncul forum jual beli di Kaskus, yang merupakan sebuah bentuk platform marketplace C2C. Sayangnya Kaskus kurang cepat menanggapi peralihan industry sehingga kaskus tidak pernah menjadi besar seperti halnya bukalapak dan Tokopedia.


Hal yang sama dialami oleh PT Pos Indonesia. Ketika bisnis pengiriman surat sudah tidak lagi menarik sebagai akibat dari munculnya surat elektronik (email), PT Pos Indonesia tidak segera beralih pada bisnis logistik yang mereka miliki. Padahal PT Pos memiliki infrastruktur yang sangat baik. Jaringan kantor operasional mereka menjangkau sampai kecamatan di setiap propinsi di Indonesia. Dengan keunggulan infratruktur yang mereka miliki seharusnya mereka bisa menguasai bisnis logistik di Indonesia. Namun kenyataannya justru bermunculan banyak perusahaan ekspedisi baru, J&T, Lionparcel, Kobra express dan lain-lain. Hal ini tentunya sebagai akibat dari ketidakmanpuan PT Pos Indonesia dalam menyerap permintaan terhadap jasa logistik yang terus meningkat sebagai dampak dari transaksi online.


Peralihan era seperti saat ini memberikan banyak peluang dan memunculkan banyak pengusaha-pengusaha kecil baru, yang tentunya juga memiliki potensi untuk menjadi besar. Di lain sisi hal ini juga memberikan dampak berupa kebangkrutan bagi pengusaha-pengusaha besar yang tak sanggup bertahan terhadap angin perubahan ini. Menjadi waspada adalah sebuah keharusan dalam era peralihan seperti ini dan merespond atas segala opportunity yang ada merupakan sikap bijak yang perlu dilakukan.

Untitled Document
   
 Umum
   
   
   
 Ekonomi
     Shifting - era digital
   
   
 Politik
     Pemilu 2019 - tahun panas
   
   
 Hobby
   
   
   
 Roti Jiwa
     Dedikasi, apresiasi
     Kisah garam, gelas dan danau
     Sang dadu
footer
Anggrek V - Larangan Indah
Ciledug - Tangerang
Banten 15154